Launquius AP - 2. Raven Rock Village
Cerita sebelumnya: Quest Perdana
*****
Perjalanan menuju Launquius, terlepas banyak adventurer yang tahu lokasi yang mereka tuju dan rute menuju ke sana, membuat Skell tidak tenang.
Skell bukan jenis yang mudah menurunkan kewaspadaannya. Bertahun-tahun ia menggembalakan domba, dua-tiga kali ia terkecoh oleh suasana tenang yang ternyata tidak berakhir tenang: badai yang datang lebih awal dari perkiraan hingga tiga ekor domba hilang di tengah derasnya hujan dan serigala yang tiba-tiba menyergap serta membawa pergi seekor domba di siang bolong.
Banyak orang tahu tentang Launquius bukan berarti tempat tersebut menyimpan sedikit bahaya.
Marduk mungkin memikirkan hal yang sama. Sang karhu hanya tak menyatakannya lewat ucapan dan Skell tidak bisa membaca raut wajah Marduk selain ekspresi fokus serta serius. Karhu memang menyerupai seekor beruang, tapi mereka bisa mengutarakan ekspresi lewat mata dan bagaimana sudut bibir mereka membentuk. Ekspresi serius Marduk adalah karena sifatnya yang seperti demikian, bukan karena karhu tidak bisa berekspresi.
"Tuan Marduk selama ini adalah adventurer atau sebelumnya ... bukan adventurer?" Skell bertanya setelah memantik api unggun dan menyimpan kembali kotak rabuknya.
Malam ini Skell dan Marduk kembali berkemah di luar. Dari informasi yang didapatkan sejauh ini, tinggal sehari perjalanan lagi sebelum mereka memasuki daerah Launquius. Kalau mereka bisa segera menemukan tempat menginap begitu memasuki Launquius, maka ini terakhir kalinya mereka bermalam di luar.
"Aku petarung jawara di sukuku," jawab Marduk.
"Petarung jawara?" ulang Skell, asing dengan frasa tersebut.
"Jika terjadi konflik antar suku, kadang tidak langsung berperang, tapi mengirim satu perwakilan untuk bertarung. Itu petarung jawara."
"Jadi, itu sebabnya Tuan Marduk tidak gentar sama sekali menghadapi monster waktu sayembara!"
"Hm."
Sekali lagi, Skell merasa dia beruntung karena rekan adventurer-nya adalah Marduk.
*****
Matahari sudah nyaris menghilang di ufuk barat ketika Skell dan Marduk tiba di sebuah desa.
Sambil berjalan memasuki desa, Skell memperhatikan penduduk yang berlalu lalang di sekitar mereka. Banyak yang membawa cangkul, sekop, dan beliung. Beberapa mendorong gerobak kecil bermuatan pecahan batu dan pasir. Semuanya melihat ke arah Skell dan Marduk dengan pandangan bertanya-tanya, membuat Skell pelan-pelan mundur ke balik sosok Marduk yang menjulang.
Ini pertama kalinya Skell datang ke desa semacam in. Sejauh pengamatan Skell, ia menduga sepertinya ini desa penambang.
Memasuki pusat desa yang berupa lapangan terbuka, sebuah papan penanda mengklarifikasi dugaan tentang desa apa ini dan memastikan bahwa mereka telah memasuki Launquius:
RAVEN ROCK
HARAP BERHATI-HATI DI SEKITAR TAMBANG
Sebelum Skell mengutarakan kekhawatirannya apakah di kota ini ada penginapan atau tidak, Marduk sudah lebih dulu menghentikan seorang pekerja tambang yang mendorong gerobak kosong.
"Di mana kami bisa menemukan penginapan?" tanya Marduk.
"Uh ... tidak ada penginapan di sini ...."
"Tidak ada?"
Skell tidak terlalu kaget mendengar soal tidak ada penginapan. Di permukiman yang relatif besar, penginapan yang merangkap sebagai kedai makan dan minum, cukup mudah ditemukan. Bahkan kadang ada lebih dari satu penginapan jika kotanya lebih besar dan ramai pengunjung.
"Apa ada seseorang yang punya lumbung atau gudang yang boleh kami menumpang tidur?" Skell dengan cepat menambahkan. Si pekerja tambang ini nampak ingin cepat-cepat kembali ke pekerjaannya. Entah karena dia punya majikan yang tak kenal ampun pada anak buah yang malas-malasan atau karena penyebab lainnya.
"Coba rumah Kepala Desa." Si pekerja tambang kelihatan sekali menjawab sekenanya belaka. "Rumah beliau yang paling besar di kota ini. Maaf. Saya permisi."
Dan dengan demikian si pekerja tambang lanjut bergegas.
"Rumah Kepala Desa." Marduk melipat tangan di depan dada. Keningnya sedikit berkerut.
Belum sempat Skell menanyakan apa yang membuat Marduk begitu kebingungan, seorang wanita paruh baya menghampiri dari sisi lain lapangan terbuka. Seorang bayi nampak tertidur pulas dalam kain gendongan wanita tersebut.
"Jangan rumah Kepala Desa!" seru si wanita tua. "Lebih baik kalian cari Kepala Tambang! Pria yang lebih bisa diandalkan daripada Kepala Desa payah kami!"
"Terima kasih banyak sarannya, Nyonya," sahut Skell.
"Sama-sama!"
Wanita tua itu datang tak diundang dan pergi tanpa disuruh. Untungnya, tidak memperpanjang percakapan dengan penjabaran alasan di balik kenapa ia menyebutkan "Kepala Tambang lebih bisa diandalkan daripada Kepala Desa".
"Aku mungkin akan lebih mendengarkan apa kata wanita tadi, " Skell berkata pelan pada Marduk. "Wanita tua sebaiknya tidak dilawan."
"Aku berpikiran sama." Marduk mengeluarkan suara menyerupai geraman setuju. "Wanita tua sebaiknya tidak dilawan."
Matahari semakin condong barat, mengisyaratkan Skell dan Marduk untuk mulai mencari rumah si Kepala Tambang sebelum hari gelap. Mereka menghampiri penduduk lainnya yang kebetulan melewati lapangan untuk bertanya ke mana arah yang harus mereka tuju.
"Kepala Tambang Frock atau Kepala Tambang Thugg?"
Skell dan Marduk saling berpandangan. Si penduduk, seorang pemuda berwajah pucat yang samar-samar menguarkan bau mentega dan tepung, menghela napas.
"Kok kalian tidak tahu sih? Bukannya semua orang membahas kalau Kepala Tambang Frock sudah jadi payah dan sebaiknya digantikan Kepala Tambang Thugg? Orang-orang bahkan sudah banyak yang memanggilnya 'Kepala Tambang Thugg'."
"Kami bukan orang sini."
Si pemuda yang kemungkinan bekerja di toko kue membuka mulutnya membentuk "O", nampaknya baru sadar kalau ia berhadapan dengan dua orang adventurer.
"Ah, ya. Hmm, kurasa sebaiknya kalian coba ke ... ke mana sebaiknya, hmmm .... Mmm, coba ke Toko Kelontong. Lurus lewat jalan ini. Ada papan nama kayunya."
"Kami hendak menginap, bukan berbelanja," ujar Marduk.
"Dia orang yang kutahu bisa terima tamu meskipun entah di mana tamunya tidur." Si pemuda berkacak pinggang, tidak mau diprotes. "Lurus saja lewat jalan ini, cari toko yang ada papan nama kayunya. Nama tokonya 'Toko Kelontong'. Aku pergi dulu."
Entah pada dasarnya tidak terlalu ramah, entah tata krama di tempat ini berbeda, entah urusannya sangat penting, pemuda itu pun berlalu pergi.
"Hmm ...." Marduk mengeluarkan geraman pelan. "Aneh."
"Aneh?" ulang Skell. "Rasanya ... memang ada yang aneh sih ...."
Tapi sang Karhu tidak menjelaskan apapun dari komentarnya dan lanjut berjalan menyusuri jalanan yang ditunjukkan si pemuda bau mentega dan tepung tadi. Tak terlihat keraguan dari langkah kaki Marduk, tapi tidak demikian dengan Skell yang instingnya agar waspada mulai membuat setiap langkahnya ragu-ragu.
"Tuan Marduk, yakin kalau Toko Kelontong ini aman?" tanya Skell.
"Apa yang mungkin terjadi?" balas Marduk.
"Perampok yang akan merampas semua harta benda dan menusuk kita ketika sedang tidur."
"Lebih baik berkemah di luar?"
"Uh ...."
Saat perdebatan tersebut dimulai, mereka berdua telah tiba di depan toko kelontong bernama "Toko Kelontong", persis demikian yang tertera pada papan nama kayu yang digantung di depan toko.
Bangunan toko ini terbuat dari kayu. Dari luar bisa terlihat kalau toko ini paling tidak terdiri dari dua lantai. Bahan-bahan makanan yang dipajang di etalase lebih sedikit daripada yang bisa diharapkan dari sebuah toko kelontong. Hanya ada beberapa toples acar, beberapa toples selai, dan sejumlah kertas bertuliskan "SOSIS HABIS", "DENDENG HABIS", "TELUR DISTOK HARI RABU", dan "TIDAK ADA DI ETALASE, TIDAK ADA STOK".
Sesosok Dwarf terlihat mendekati pintu, hendak membalik tanda "BUKA" menjadi "TUTUP", namun kemudian menyadari keberadaan Skell dan Marduk di depan toko.
"Oi." Sang Dwarf membuka pintu tokonya dan memanggil. "Butuh apa? Masuk saja dan pilih sendiri mau beli apa. Mumpung belum kubalik tanda toko ini."
"Butuh tempat bermalam," jawab Marduk frontal.
Si Dwarf mengerjap beberapa kali. "Ini toko kelon—oh, tunggu. Kalian diberitahu kalau bisa menginap di sini?"
Marduk mengangguk, disusul Skell yang lebih ragu.
Sang Dwarf menghela napas panjang, nampak memikirkan suatu persoalan pelik sebelum akhirnya mengangkat bahu dan berkata, "Masuklah."
*****
Anmotir, Dwarf pemilik dan pengurus Toko Kelontong, menunjukkan kamar yang bisa digunakan oleh Skell dan Marduk di lantai dua. Ia menjelaskan bahwa saat ini pasokan makanan sedang sulit dan ia tak bisa menyediakan makanan untuk Skell dan Marduk walaupun mereka membayarnya. Malah justru Anmotir lebih memilih Skell dan Marduk membayar kamar mereka dengan membagi perbekalan makanan yang mereka bawa.
"Awalnya karena air!" kata Anmotir di tengah penjelasannya. "Kami punya beberapa sumber air, tapi yang satu tercemar hingga menyebabkan ternak dan orang sakit. Yang satu lagi menipis dan menjadi rebutan antara untuk minum atau untuk tambang."
"Dan masih ada perselisihan antara kepala tambang dan kepala desa?" Skell berujar pelan, berusaha melanjutkan pembicaraan.
"Bahkan perselisihan itu, dan kekesalan kami pada Kepala Desa, adalah karena urusan air juga." Anmotir menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. "Kepala Desa lamban bertindak. Kepala Tambang Frock konon penyebabnya pasokan air jadi seperti ini, tapi dia tak mau bertanggung jawab dan malah menyalahkan anak buahnya yang ceroboh dan mencemari sumber air. Anak buahnya tidak terima disalahkan karena mereka hanya mengikuti instruksi."
Anmotir mengeluarkan sebotol minuman beralkohol yang dibuatnya sendiri, menawarkannya pada Skell dan Marduk. Baik Skell maupun Marduk sama-sama menolak tawaran tersebut, berhati-hati pada minuman yang tidak dibuat pengrajin. Itu pelajaran penting yang ditekankan di antara para adventurer, terutama yang baru memulai karir mereka.
Semakin banyak isi botol minuman yang ditenggak Anmotir, ceritanya tentang situasi Raven Rock semakin menjurus menyalahkan Kepala Tambang Frock. Ketidaksukaannya—dari mendengarkan keluh kesah para penambang saat kumpul-kumpul minum di tempat minum terdekat—tidak ditutup-tutupi, padahal jelas-jelas ia belum pernah berurusan langsung dengan Kepala Tambang Frock selain mendapat komplain tentang anak si Kepala Tambang yang terlalu suka keju ketika yang bersangkutan membeli keju darinya.
Sesaat sebelum undur diri ke kamarnya sendiri, Anmotir berkata pada Skell dan Marduk, "Pokoknya—jangan percaya—pada si—Frock. Orang itu katanya—menemukan relik—dalam tambang. Kutukan. Pasti kutukan. Relik tua. Terkutuk."

Sambil agak limbung, sang Dwarf menutup pintu kamarnya.
*****
WRITER/PLAYER NOTE
Beberapa detail hasil roll tidak harus segera diketahui oleh karakter-karakter yang digerakkan dalam game. Fungsi utama dari roll tersebut adalah memberikan "kedalaman" untuk lokasi, karakter, atau benda tertentu. Apa menariknya Raven Rock kalau dia hanyalah sebuah desa tambang yang diberi nama "Raven Rock" karena tebing yang dari jauh menyerupai kepala seekor gagak? Tambahkan bumbu konflik sedikit supaya lebih sedap.
*****
Cerita berikutnya: Gempa dan Suku Nomadik
Selengkapnya: Kronik Launquius
Komentar
Posting Komentar