Launquius AP - 3. Gempa dan Suku Nomadik

Cerita sebelumnya: Raven Rock Village

*****

KRAK.

Bunyi patah yang terdengar lebih keras daripada gagang tombak yang patah itu membangunkan Marduk. Ia membuka mata sambil tetap berbaring. Telinganya mencoba menangkap suara-suara lain sementara matanya membiasakan dengan kegelapan.

Ketiadaan angin dan desau rerumputan mengingatkan Marduk kalau malam ini ia bermalam di sebuah kamar kosong di loteng toko kelontong, bukan di alam liar seperti beberapa malam terakhir. Lantai kayu di bawah alas tidur terasa rata dan keras, tanpa gemersik rerumputan atau daun kering di bawahnya.

... Tapi lantai ini rasanya seperti bergoyang.

Sebelum Marduk memutuskan untuk bangkit, Skell lebih dulu beranjak bangun.

"Apa ini?" Skell menggerutu dalam bisikan. "Kenapa—ada apa?"

Mendengar kata tersebut, Marduk bangkit, menegakkan tubuh.

"Tuan juga merasakannya?" tanya Skell.

"Hm." Marduk mengangguk sambil berdiri dan mengenakan cawat kain. "Harus keluar."

Jika tidak mengenakan armor, Karhu perlu minimal memakai aksesoris yang menyerupai pakaian atau pakaian kain yang sederhana agar tidak dikira beruang sungguhan. Ini sesuatu yang kaum Karhu adaptasi dari berabad-abad berinteraksi dengan kaum lain, walaupun mereka tidak pernah merasa tak nyaman dengan ketelanjangan mereka.

Skell bergegas mengikuti Marduk turun ke lantai bawah. Anmotir menyusul mereka tak lama kemudian, menuruni tangga dengan tergopoh-gopoh. Sang dwarf memeluk susuran tangga supaya tidak oleng jatuh.

Kunci pintu belakang toko kelontong diputar membuka oleh si pemilik. Tanpa saling suruh, ketiganya langsung keluar dari dalam ruangan.

Guncangan masih berlangsung hingga mungkin semenit berikutnya. Lebih banyak penduduk yang keluar dari rumahnya diiringi keributan-keributan kecil—gelas atau vas pecah, barang yang tertinggal, bayi yang menangis—dan seruan-seruan panik.

"Ada apa lagi ini?" kata Anmotir gusar.

"Ini ... tidak sering terjadi?" Skell bertanya. Ia pun belum pernah mengalami hal semacam ini, meskipun pernah diajari oleh druid yang menjadi mentornya bahwa "ketika tanah berguncang dan bergoyang, kau harus berada di tempat terbuka". Kalau Marduk tidak membuat pernyataan bahwa mereka harus keluar, Skell tidak akan ingat nasihat tersebut.

"Pernah. Tidak sering." Kening Anmotir berkerut. "Kalau tidak salah waktu lorong tambang ada yang ambruk, tapi durasinya tidak selama ini. Jadi ... mungkin ini bukan lorong runtuh. Dan kalau sampai selama ini mungkin bukan cuma lorong tapi seisi tambang ambruk total."

Teriakan terdengar di kejauhan. Bukan teriakan panik atau ketakutan. Lebih seperti teriakan marah yang mengajak.

Skell mulai menyesal ia tidak mengenakan alas kaki ketika keluar dari dalam toko. Kakinya terasa dingin, sedikit membuat menggigil.

Anmotir menghela napas. "Kalian dengar itu? Kurasa ada yang mulai mencari kambing hitam. Entah siapa yang mau mereka tuduh, si Kepala Desa, atau salah satu Pengurus Tambang." Sang dwarf tiba-tiba terdiam. "Berapa banyak orang yang kalian temu waktu datang kemari?"

"Tidak banyak. Yang kami tanyai atau bicara dengan kami soal tempat menginap hanya tiga orang."

"Kalian berkemaslah dan pergi pagi-pagi betul," lanjut Anmotir. Ia menggiring Skell dan Marduk kembali ke dalam toko kelontong. "Selain si bocah dari toko roti, entah siapa lagi yang kalian ajak bicara, semoga saja mereka tidak mengabarkan ke terlalu banyak orang. Dengar, kulakukan ini demi diriku sendiri dan demi orang lain. Kalau ada yang menyalahkan kalian sebagai penyebab apapun ini, aku ikut kena masalah. Kalau kalian tidak disalahkan, tapi kota ini terlanjur ribut, entah apa kalian bisa keluar dari kota atau tidak. Kalian mengerti kekhawatiranku?"

Skell dan Marduk saling melirik. Skell mengangkat alis lalu mengangguk. Marduk mengangkat bahu lalu mengangguk.

"Kami akan berkemas dan pergi sebelum matahari terbit."

*****

Skell tidak bisa benar-benar tertidur setelah gempa yang terjadi tadi. Ia memejamkan mata, sudah hendak membiarkan kantuk membawanya kembali terlelap, tapi kemudian teringat bahwa ia harus segera pergi sebelum matahari terbit.

"Tuan Marduk? Anda masih bangun?" Akhirnya Skell memutuskan bertanya pada Marduk, kalau sang Karhu belum terlelap kembali.

"Hm."

"Apa sebaiknya kita pergi sekarang saja? Toh sekarang juga terhitung 'sebelum matahari terbit'."

"Hrrmm. Ya." Marduk bangkit dari posisi berbaring. "Ide bagus. Semoga Tuan Dwarf belum tidur lagi."

Anmotir bahkan sepertinya tidak berniat tidur karena saat Skell dan Marduk turun ke lantai bawah, mereka mendapati sang Dwarf itu duduk di kursi di balik meja penjualan, masih mengenakan pakaian tidur, namun matanya terpaku ke arah etalase toko.

"Firasatku tidak enak." Anmotir menghela napas. "Aku tidak berniat mengusir kalian pergi saat gelap seperti ini, tapi kurasa itu yang terbaik. Berhati-hatilah. Hindari berpapasan dengan orang sebisa mungkin. Kuharap semuanya masih ribut dengan siapa yang harus disalahkan atau bertanggung jawab."

"Terima kasih."

Marduk meninggalkan beberapa keping koin di atas meja toko. Tanpa menghitungnya, Anmotir memasukkannya ke dalam kantong kulit di dalam laci. 

*****


? Encounter dalam perjalanan?
-> Humanoid Size 70 (Lair) Foraging Helpful/Friendly
=> Suku Lizardfolk/Salimar yang sedang mengumpulkan bahan makanan dan obat-obatan dari sekitar.
(note: Salimar adalah salamander humanoid yang kebal suhu ekstrem dingin/panas, Heritage dari Tiny Dungeon)

Berangkat jauh sebelum matahari terbit membuat Skell kehilangan fokus ketika hari sudah mulai terang dan mereka berada cukup jauh dari Raven Rock. Ia berjalan beberapa langkah dengan pikiran kosong dan tidak akan sadar kalau tidak menubruk punggung Marduk yang tiba-tiba berhenti di jalan.

Karena Marduk biasanya tidak berhenti tanpa penyebab yang jelas, Skell otomatis melihat ke sekitar mereka. Tidak terlihat ada bahaya, tapi Skell memang merasakan ada sesuatu jika mereka melanjutkan ke turun ke lereng bukit. Seperti ada kegiatan di sekitar sana.

"Ke arah mana kita harus pergi?" Marduk bertanya.

"Uh ... ke barat dari Raven Rock."

Sambil merasa bersalah karena berjalan sambil melamun dan tak memperhatikan ke mana mereka pergi, Skell mengeluarkan peta lalu mengecek arah bayangan mereka berdua. Mereka masih mengarah ke barat. Setidaknya, tidak melenceng terlalu jauh dari rencana semula.

"Ya, kita harus melewati bukit ini." Skell menyimpan kembali peta. Mereka berdua sudah mencapai bagian bukit yang lebih landai setelah mendaki sejak tadi. "Atau ... sebaiknya kita memutar? Barangkali bukan kawanan yang bersahabat. Maksudku ... daripada kita terlanjur terlihat oleh mereka."

Ada beberapa suku-suku nomadik yang tinggal di padang rumput luas ini. Tidak ada peringatan tentang suku tertentu yang harus dihindari tanpa kecuali, tapi bagi Skell "tidak ada peringatan" tidak sama dengan "tidak ada bahaya". Tidak banyak petualang dari tempat Skell dan Marduk yang berkelana sampai ke daerah Launquius ini. Kalaupun ada, mereka tidak berada di sekitar Skell dan Marduk untuk meralat informasi yang diterima oleh keduanya saat bertanya-tanya tentang Launquius. Informasi yang beredar mungkin tidak lengkap atau sudah tidak relevan.

"Kita jalan sampai bisa melihat mereka," kata Marduk. "Sebisanya tidak terlihat. Baru kita putuskan."

Menurut Skell, sudah terlambat kalau memutuskan putar balik dan memutar jika sudah sampai bisa melihat siapapun (atau apapun) yang sekarang ini ada di lereng bukit, tapi jika dipikirkan baik-baik, langsung berjalan memutar membuat perjalanan mereka lebih jauh dan tidak ada jaminan tak ada bahaya lain yang menghadang.

"Baiklah." Skell memperbaiki posisi tas di punggungnya dan lanjut berjalan di belakang Marduk.

Kira-kira setelah melewati puncak bukit, ditandai dengan tanah yang mulai menurun, suara-suara dari lereng terdengar lebih jelas. Ada kesibukan, tapi bukan pertempuran. Sesekali terdengar seruan memanggil, sisanya adalah suara samar perkakas.

Marduk mulai berjalan lebih dekat area yang ditumbuhi pepohonan dan semak. Skell mengikuti, tidak berani jauh-jauh.

Semakin dekat dengan lereng, suara-suara tersebut mulai terlihat memiliki wujud: sebuah suku, mungkin tidak kurang dari seratus Lizardfolk dan Salimar. Ada yang mendirikan kemah, ada yang menyiapkan api unggun di beberapa tempat, ada yang berkumpul di tempat terbuka sekitar tumpukan kayu untuk api unggun dan sibuk menyiapkan bahan makanan serta bumbu. Mereka yang tersebar di sekitar perkemahan ini nampak berkutat dengan semak-semak yang tumbuh lebih subur serta lebat di lereng bukit.

"Sepertinya mereka mengumpulkan beri dan daun obat," kata Skell setelah mengamati gerak-gerik kelompok di dekat semak-semak. "Bagaimana sekarang?"

Tapi sebelum Skell maupun Marduk sempat memutuskan, salah satu Salimar yang menuju semak yang belum dikerubuti sesama anggota suku, melihat kedua pendatang. Ia melihat ke belakang sekilas sebelum akhirnya berjalan menghampiri.

"Butuh bantuan?" Lidah tipis bercabang si Salimar keluar sekilas dari antara bibirnya di akhir kalimat. "Ad-ven-tu-rer?"

"Ya. Kami adventurer."

"Butuh bantuan? Mau berkemah ber-ssh-ama?"

Skell dan Marduk saling berpandangan, tak mengira akan menerima sambutan seperti ini. Berada bersama-sama kelompok sebesar ini jelas akan menguntungkan mereka. Minimal, ketika bermalam, peluang disergap perampok jauh lebih kecil.

"Boleh ...," kata Skell perlahan, masih ragu. Selain belum seratus persen percaya dengan suku ini, Skell asing dengan adat istiadat kesukuan.

"Bawa kami menemui ketua sukumu," kata Marduk. "Beliau yang bisa memberi izin apakah kami boleh bergabung dengan kalian malam ini atau tidak."

Si Salimar mengangguk. "Ikut aku. Mari."

*****


? Detail lain terkait tribe ini (Conversation)
-> Commerce
? Detail lain terkait tribe ini (Group Leader)
-> Old/frail Paranoid wants Help/Aid
=> Beberapa anggota tribe ingin berdagang/barter, tapi kepala suku mereka tidak setuju karena terlalu takut ditipu.

Dibandingkan Marduk, Skell sebenarnya lebih banyak bicara jika berhadapan dengan orang, tapi berada di antara anggota suku nomadik ini (yang ternyata semuanya terdiri dari Lizardfolk dan Salimar, tidak ada manusia, Elf, apalagi Karhu), Skell tidak bisa segera membaur. Marduk justru lebih cepat beradaptasi karena langsung bisa menawarkan diri membantu pekerjaan berat yang membutuhkan kekuatan fisik.

Skell baru mulai terlibat pembicaraan ketika Salimar, yang tadi mengantarnya dan Marduk menghadap petinggi suku, menawarkan tanaman obat padanya.

Suku Lizardfolk dan Salimar ini mengidentifikasi diri mereka dengan "Sisik Rembulan". Konon, leluhur yang menjadi pemimpin pertama dari suku ini adalah seorang Lizardfolk dengan tanda berbentuk bulan sabit di keningnya. Anak cucunya mewarisi tanda yang sama, tapi keturunan ini terhenti karena pewaris terakhirnya tewas saat sedang berburu. Tradisi suku kemudian berubah. Para petinggi, termasuk kepala suku, mengenakan pewarna perak untuk membuat tanda bulan sabit di kening mereka saat upacara-upacara khusus dan membiarkan pewarna tersebut pudar seiring berjalannya waktu. Dengan demikian, nama "Sisik Rembulan" tetap cocok dengan identitas mereka.

"Apakah ad-ven-tu-rer juga berdagang?" Si Salimar, namanya "Duet", bertanya, sambil memotong-motong daun yang dikumpulkannya dengan pisau batu.

"Setahuku ada yang bertualang sambil berdagang, tapi kami tidak," kata Skell. Matanya tak lepas memandangi bagaimana Duet bekerja. Duet tidak melakukan hal luar biasa, tapi cara kerjanya dan bunyi pisau yang berdetak-detak di atas alas kayu terasa menenangkan dan bisa ditonton lama-lama.

"Ssh-kell tahu caranya berdagang?"

"Hmm ... pada dasarnya beli sesuatu dengan harga murah, lalu jual untuk harga lebih tinggi. Atau kalau keluargaku yang petani, jual susu setara harga pakan hewan ternak yang menghasilkannya. Atau susunya diolah terlebih dahulu menjadi keju baru dijual. Keju harganya lebih mahal daripada susu."

"Keju? Ssh-ejenis makanan?"

"Susu yang dibuat menjadi padat dan asin, bisa dimakan dengan roti atau kentang."

Duet mengerjap. Lidah tipisnya yang bercabang menjulur sekilas dari antara kedua bibirnya. Dia tidak terlihat paham apa itu "keju", "roti", dan "kentang".

"Jangan bicara kera-ssh." Seorang Lizardfolk yang hijau sisiknya begitu gelap hingga terlihat nyaris hitam, tiba-tiba memotong percakapan. "Kau tahu Tetua Forte melarang."

"Maaf." Duet kembali bekerja dan sama sekali tak melanjutkan pembicaraan.

Baru saat Skell bertemu kembali dengan Marduk, ia tahu kalau ada topik yang dilarang dibicarakan di antara anggota suku: perdagangan.

"Aku tahu suku yang seperti itu," kata Marduk. "Ada yang hanya ingin barter, ada yang sama sekali tidak ingin."

"Tapi bukannya berdagang itu menguntungkan? Apalagi kalau seperti suku ini. Mereka punya berbagai jenis obat-obatan dari bahan tumbuhan yang akupun baru pernah dengar."

Marduk menggeleng. "Dari yang kutahu, koin membuat orang berubah. Barang unik dan langka membuat orang iri hati. Semuanya mengarah ke masalah."

Skell menoleh ke arah Duet yang bersama beberapa orang anggota suku lainnya sedang memasukkan daun-daunan kering ke bungkus-bungkus terpisah dan membagikannya pada anggota suku lain yang duduk berkelompok menunggu pekerjaan mereka selesai.

Sebuah cara hidup yang ketinggalan zaman. Tapi mungkin kekunoan itulah yang menjaga segala sesuatunya tetap harmonis di antara anggota suku ini.

Tenda Skell dan Marduk tidak berada terlalu dekat dengan api unggun, tapi tidak berada di bagian terluar dari perkemahan. Bagian terluar ditempati oleh mereka yang sudah cukup umur untuk mengangkat senjata dan fasih menggunakannya untuk melawan hewan buas. Dua-tiga orang dari kelompok tersebut mendatangi Marduk setelah makan malam, memintanya beradu panco. Marduk menerima tantangan tersebut, memenangkan sebagian besar, dan berakhir seri melawan segelintir yang memang berbadan besar.

"Karhu jarang di ssh-ini." Si Salimar berbadan besar mengibas-ngibaskan tangan setelah dikalahkan oleh Marduk. "Kuat ssh-eperti yang kami dengar."

"Kalian hendak ke mana? Kota ka-ssh-til?"

"Bukan."

"Apakah kalian pernah mendengar tempat bernama High Barrow Vault?" 


? Apakah ada yang tahu soal High Barrow Vault?
-> No, and ...
(note: Saya bingung harus menyambung dengan "and" apa, jadi saya roll Event Seeds)
-> Opportunity

Pertanyaan dari Skell memancing diskusi di antara para pemburu dan penjaga malam. Mereka belum pernah mendengar nama tempat tersebut dan justru bertanya balik pada Skell dan Marduk untuk menceritakan seperti apa tempatnya. Baru setelah mereka memahami penjabaran tentang "kuil di dalam perut bukit", beberapa mulai merasa familier dengan lokasi itu. Tapi pada akhirnya tidak ada yang bisa memberikan informasi tambahan.

"Bukankah ... Tetua Forte melarang ...?" Salah satu pemburu bertanya pelan.

Sepertinya semua hal yang dilarang di suku ini berasal dari Tetua Forte.

*****


? Bantuan seperti apa yang diinginkan kepala suku? (dari "wants Help/Aid")
-> Pursue Separation
=> Saat tahu Skell dan Marduk hendak ke Vault, Kepala Suku meminta mereka mencari salah satu orang kepercayaannya yang bergabung menjadi anggota Vault. Kalau bisa meyakinkannya supaya pulang.
[Thread:Cari Lizardfolk dalam Vault|Open]

Skell dan Marduk kembali ke tenda mereka lebih larut dari biasanya. Jika hanya berkemah berdua, mereka tak melakukan banyak hal selain memeriksa ulang isi tas masing-masing dan stok perbekalan, lalu beranjak tidur. Di antara anggota Sisik Rembulan? Setelah makan malam dibereskan, ada yang mulai menyanyi dan memaksa para musisi mengambil alat musik masing-masing untuk mengiringi si penyanyi. Satu lagu selesai, permintaan lagu lain muncul. Dalam sekejap, kelompok yang duduk di sekitar api unggun terhanyut suasana. Dari satu penyanyi ke penyanyi lain, lalu berakhir di seorang yang alih-alih bernyanyi lebih memilih membawakan sebuah cerita.

Hal yang biasa terjadi, yang mengingatkan Skell akan festival musim panen di mana sejumlah keluarga petani berkumpul di satu tempat yang sama, makan dan minum, dilanjutkan berbagi cerita dan bermusik.

"Ad-ven-tu-rer?"

Celah di tenda disibak sedikit. Sebuah mata kuning mengintip ke dalam.

"Aku diminta memanggil kalian," lanjut Lizardfolk bertubuh kecil itu. "Tetua Forte."

Perasaan Skell tidak enak. Apakah gara-gara mereka memicu pembicaraan tentang hal-hal yang dilarang, maka Tetua Forte ini memanggil mereka? Apa yang akan dia lakukan? Menghukum mereka? Tapi mereka adventurer yang bahkan bukan bagian dari suku, yang besok pagi juga akan pergi  melanjutkan perjalanan lagi.

Tenda yang ditempati Tetua Forte tidak lebih besar dari tenda-tenda lainnya, salah satu yang didirikan dekat api unggun. Satu-satunya penanda bahwa penghuninya adalah orang penting hanyalah sejumlah hiasan dari untaian tali dan manik-manik di pintu masuk tenda.

Si Lizardfolk yang disuruh memanggil Skell dan Marduk masuk ke dalam tenda terlebih dahulu. Ia mendekati sosok tua yang duduk beralaskan bantal, membisikkan sesuatu dan mengarahkan Lizardfolk tua itu agar menghadap ke arah di mana tamu-tamunya berada. Si Lizardfolk muda itu kemudian cepat-cepat mendekati Skell dan Marduk, mempersilakan keduanya duduk.

Sosok Tetua Forte terlihat uzur. Sisiknya kusam, warna hijaunya pupus hingga nyaris kelabu, bahkan putih. Kedua matanya tersaput lapisan putih susu, kemungkinan besar sudah tidak bisa melihat sama sekali. Gerak-geriknya lambat penuh kehati-hatian. Lidah tipis bercabangnya menjilat udara lebih sering daripada yang dilakukan Lizardfolk dan Salimar biasanya.

"Ad-ven-tu-rer." Saat bicara, suara Tetua Forte seperti dua kayu kasar yang digosokkan. "Kudengar kalian hendak pergi ke kuil dalam bukit?"

"Benar, Tetua."

Tarikan napas berat beberapa kali. "Maukah membantuku?"

Sebagai adventurer, setiap jenis bantuan harusnya dengan janji imbalan setara, tapi karena Skell ragu apakah suku-suku nomadik memegang prinsip yang sama, ia hanya menatap Marduk. Kode bahwa Skell menyerahkan jawabannya pada sang Karhu.

"Kami tidak bisa menjanjikan apapun, Tetua," kata Marduk.

Entah pendengarannya pun sudah berkurang atau karena apa, Tetua Forte melanjutkan kalimatnya seolah Marduk tak mengatakan apapun: "Ada ssh-eorang dari kami. Pergi ke ssh-ana. Minta dia kembali. Pulang."

"Hmm ...."

"Kami membutuhkannya."

Suara Marduk sedikit lebih keras sekarang: "Kami tidak bisa menjanjikan apapun, Tetua. Kami tidak terikat dengan hukum suku manapun di padang rumput ini."

"Aku tahu."

Tetua Forte kembali bernapas berat. Namun tidak ada kalimat lain keluar dari mulutnya.

Si Lizardfolk muda beranjak dari sebelah pintu berjingkat-jingkat mendekati sosok Tetua Forte. Ia berbisik, menerima balasan dalam bisikan dan bunyi serupa dengkur halus, lalu kembali kepada Skell dan Marduk.

"Tetua tidak ada lagi yang hendak dikatakan."

"Begitu saja?" ujar Skell pelan.

Sang Lizardfolk mengangguk, memberi kode agar pembicaraan berlanjut di luar tenda.

"Seperti yang kami katakan pada Tetua, kami tidak bisa menjanjikan apapun pada kalian," kata Marduk setibanya di luar.

"Ya." Sang Lizardfolk muda mengangguk-angguk. "Paham. Benar. Tetua hanya ... ssh-angat putus asa."

"Putus asa?"

"Dia yang pergi dari kami dan tinggal di kuil dalam bukit adalah calon pengganti Tetua. Pintar. Berani."

"Aku tidak bermaksud lancang, tapi kenapa kalian tidak mencarinya sendiri?" Marduk melipat tangan di depan dada.

"Tidak ada yang pernah ke sana."

"Karena dilarang?"

Sang Lizardfolk terlihat berpikir sejenak. "Karena kami tidak pergi sampai sana?"

Pemikiran yang sebetulnya kurang masuk akal, tapi Skell dalam hati mengingatkan diri sendiri bahwa suku nomadik tidak berpikir seperti orang-orang pada umumnya.

"Baiklah." Marduk menghela napas. "Orang ini punya nama?"

"Baroque. Sisiknya hijau terang."

*****

bersambung ...

Selengkapnya: Kronik Launquius

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukankah Solo Journaling Adalah Writing Prompt Dengan RNG?

"Mana Solo Play Yang Kamu Janjikan Itu?" - Sebuah Pembelajaran

Momen Menyadari Main TTRPG Jangan Dibuat Ribet