Launquius AP - 0. Prolog
Skell sudah menyadari sejak awal kalau kecil kemungkinannya ia berhasil menyelesaikan apa yang ditugaskan dalam sayembara.
Peserta lain lebih besar, lebih kuat, dan lebih berpengalaman daripada Skell. Banyak di antaranya adalah adventurer veteran, yang mengikuti sayembara ini untuk naik pangkat dari adventurer lepasan atau anggota guild menjadi adventurer kerajaan.
Di dalam hutan tempat sayembara dilangsungkan, sementara peserta lain dengan gagah berani memasuki gua dan mengobrak-abrik sarang monster demi mencari pusaka yang disembunyikan sebagai syarat memenangkan sayembara, Skell menyusuri hutan dengan ekstra hati-hati.
Sebagai penggembala, Skell tidak asing dengan hutan, meskipun ia lebih banyak menghabiskan waktunya di padang rumput mengawasi domba-domba keluarganya agar tetap berada dalam kawanan. Satu dua kali, pernah ada domba yang terpisah dan tersesat ke hutan, memaksa Skell menyusulnya demi bisa membawanya kembali.
Hutan yang Skell masuki saat itu tidak selebat dan seliar hutan tempat sayembara diadakan. Kalau ancaman di hutan yang pernah ia masuki dulu hanyalah serigala, hutan yang ini penuh monster.
"Ini sayembara kerajaan," Skell bergumam pada dirinya sendiri seraya mendengarkan sekitarnya. "Jelas saja diadakan di hutan seperti ini ...."
Raungan keras berkumandang dari sebelah kiri Skell. Agak jauh. Lalu diikuti suara lenguhan murka.
Skell sudah membulatkan hati untuk tidak pergi ke arah itu dan membalikkan badan untuk menjauhi sumber suara tersebut ketika telinganya menangkap keributan lainnya.
"Oho, Tuan Deckard rupanya! Masih payah sekali memanah ya? Pantas tidak bisa jadi anggota adventurer guild."
"Tuan Rook ternyata. Harusnya aku tahu dari sejak mencium aroma bir busuk. Masih tidak punya uang untuk membeli minuman, hah?"
Perkelahian antara adventurer kelihatannya akan jauh lebih buruk daripada pertarungan antara adventurer dan monster, jadi Skell lekas-lekas berjalan menuju arah suara raungan dan lenguhan tadi.
*****
Perbedaan paling mendasar antara seorang petarung jawara dengan seorang pemburu ada pada cara mereka menghadapi lawan mereka: petarung jawara berhadapan langsung, sementara seorang pemburu memanfaatkan perangkap dan perkakas selain senjata.
Seandainya saja Marduk ingat soal perbedaan tersebut, dia akan lebih waspada dan tidak berjalan ke depan seekor babi hutan raksasa lalu menghadapinya langsung seolah-olah ini sebuah duel.
Bulu-bulu di pinggang kiri Marduk terasa basah, persis di mana tadinya ada lempeng zirah melindungi tubuhnya. Cula si babi hutan raksasa mengoyak zirahnya di serudukan terakhir tadi. Perlahan-lahan Marduk merasa energinya ikut merembes keluar bersama darah dari lukanya. Rasa sakit baru terasa lagi setelah sesaat tadi Marduk mengayunkan warhammer-nya dengan brutal ke kepala si babi hutan, menghantamnya berulang-ulang hingga si monster tumbang tak bergerak lagi.
Ini sama sekali tidak seperti ujian pembuktian diri di suku-suku, Marduk berkata dalam hati.
Dengan kesadaran kian menipis, Marduk duduk bersandar di salah satu pohon. Pikirannya jadi lamban.
Tuan Karhu?
Marduk berkonsentrasi pada setiap tarikan dan hembusan napasnya.
"Tuan Karhu?"
Kini yakin ia tidak salah mendengar, Marduk membuka mata.
Seorang remaja pria berdiri tak jauh darinya.
*****
Jika babi hutan ini disembelih, butuh berapa lama bagi keluarganya untuk menghabiskan daging beserta olahan dagingnya?
Itu hal pertama yang terbersit dalam benak Skell ketika melihat babi hutan raksasa yang sudah tewas. Ini pertama kalinya ia melihat babi hutan sebesar itu.
Jika Skell tidak segera menolongnya, berapa lama lagi Karhu berzirah yang terluka ini akan hidup?
Itu hal kedua yang terbersit dalam benak Skell ketika melihat sosok Karhu yang duduk bersandar pada salah satu pohon. Skell bukan dokter, tapi dugaannya bahwa sang Karhu sudah setengah sadar, tidak meleset.
Membiarkan sang Karhu tewas karena luka di perutnya tak terdengar sebagai pilihan untuk Skell. Druid yang mengajarinya cara menggunakan sihir penyembuhan selalu mengatakan kalau bakat sihir Skell, walau akan ada yang menyebutnya "tidak signifikan" dan "tidak penting", ada untuk menolong orang.
Skell berlutut di sisi si Karhu berzirah. Dari dalam tas kulit lusuh yang diikatkan di pinggangnya, Skell mengeluarkan sehelai daun kira-kira seukuran telapak tangannya.
"Tuan Karhu, kalau masih bisa mendengar, tolong jangan memukulku," kata Skell. "Aku berusaha menolongmu. Jangan memukulku."
Leher Skell bisa dipastikan akan patah kalau ia ditampar seorang Karhu. Tidak perlu dibuktikan.
Sambil sekali lagi menghela napas, Skell menempelkan daun pada luka di perut sang Karhu. Ia menahan daun tersebut dengan telapak tangannya.
"Grrr ...."
"Tuan Karhu, aku menolongmu ya? Jangan pukul."
Urat-urat daun mulai berpendar. Warna hijau lembut berdenyut pelan.
Sihir Skell tidak selalu berhasil. Menurut Druid yang mengajarinya, itu wajar. Sihir adalah sesuatu yang tak bisa diprediksi. Tidak selamanya sihir mau menurut ketika hendak dimanfaatkan.
Saat Skell perlahan menjauhkan tangannya, terlihat darah tak lagi mengalir dari luka di perut si Karhu. Daun yang digunakan tadi menghilang, meninggalkan bekas kehijauan berbentuk persis daun tersebut pada bulu coklat sang Karhu berzirah.
*****
Skell dan Marduk tidak berhasil menemukan pusaka yang disembunyikan hingga waktu sayembara berakhir.
"Aku tidak mau ikut sayembara seperti ini lagi," gumam Skell.
"Sama." Marduk mendengus.
"Tapi Anda tetap ingin melanjutkan menjadi adventurer?"
"Hm. Kurasa demikian."
"Sama."
"Kita coba dulu saja."
*****
bersambung ....
Komentar
Posting Komentar